Monday, February 27, 2006

Memaknai Ibadah Ritual Secara Proporsional (4)

Tentang Zikir (2)
oleh: Ust. Muhammad Baqir Alhabsyi

(lanjutan tulisan Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya: Musykilat fi Thariq Al-Hayah Al-Islamiyyah, seperti telah saya kutipkan dalam posting sebelum ini).



Bayangkan seorang tokoh berhasil meraih kedudukan sebagai pemimpin di suatu negeri, lalu ia berkata kepada orang2 di sekitarnya: “Di hadapan kalian ada berbagai institusi kenegaraan yang harus kalian kelola dengan baik, demi membuktikan kemampuan kalian dan pencapaian sasaran kalian!” Namun orang2 itu menelantarkan institusi2 tersebut, sementara mereka berkumpul pada waktu2 tertentu di depan istana, untuk mengelu-elukan Sang Pemimpin dan meneriakkan namanya secara berulang-ulang!



Sungguh, sekiranya Sang Pemimpin mengusir mereka dari halaman istananya, ia tidak bisa disebut telah menzalimi mereka. Bahkan sekiranya ia memerintahkan para pengawal agar memukuli mereka, ia tidak bisa disebut telah menzalimi mereka. Sebab mereka adalah para perusak, bukan pengikut yang setia!



Sejak waktu cukup lama, terdapat kelompok2 ahli ibadah yang membatasi ibadah mereka hanya dalam bentuk salawat2 (atau shalat2 tetentu) dan zikir semata-mata. Mereka mengulang-ulang kebiasaan seperti itu secara terus-menerus, sambil mengira bahwa bangsa2 dapat ditegakkan dengan berbagai gumam dan komat-kamit, tanpa kerja keras dan nyata dalam membangun umat. Kalau begitu, siapa gerangan yang akan membela Allah dan Rasul-Nya? Mereka itu sepertinya itu tidak mengetahui sedikit pun tentang besi, tungku2nya dan pabrik2 yang berkaitan dengan besi. Sedangkan Allah swt berfirman dalam Kitab-Nya: Telah Kami turunkan (logam) besi yang mengandung kekuatan sangat besar dan di dalamnya terdapat amat banyak manfaat bagi manusia. Dan agar Allah mengetahui siapa gerangan yang benar2 membela Allah dan rasul2Nya … (QS Al-Hadiid: 25).



Ada puluhan jenis industri, untuk sipil dan militer, yang berkaitan dengan minyak dan cara2 mengeksploitasinya serta pemanfaatan industri2 sampingannya. Kita (kaum Muslim) tidak cukup mengetahui tentangnya. Dapatkah akidah tauhid kita dilayani secara baik dengan kelemahan dan kebodohan yang hina seperti ini??



Seandainya dikatakan kepada segala suatu di negeri2 Muslim: “Kembalilah ke negeri asalmu!” sungguh saya khawatir rakyat di negeri2 ini akan berjalan dalam keadaan tubuh dan kaki telanjang. Karena mereka takkan menjumpai lagi sesuatu, buatan tangan mereka sendiri, yang dapat mereka pakai sebagai penutup tubuh mereka atau kaki2 mereka atau sesuatu yang dapat mereka kendarai atau menerangi rumah2 mereka! Bahkan saya khawatir mereka akan ditimpa kelaparan, mengingat negeri2 mereka tidak mampu berswasembada di bidang pangan mereka!



Allah swt sungguh takkan menerima religiusitas (atau cara melaksanakan agama) yang mirip dengan kelumpuhan aneh seperti ini. Sungguh saya tidak tahu, bagaimana kita mengklaim diri kita beriman dan berjihad, sementara kita masih menderita penyakit kekanak-kanakan yang menyebabkan orang2 lain memberi kita makanan dan obat2an. Dan kadang2 senjata, di saat2 mereka mau???



Ini adalah sikap kekanak-kanakan yang mengundang para pengasuh yang berkuasa penuh. Bicara tentang penyuksesan misi kita, sementara kita masih dalam keadaan seperti ini, benar2 adalah omong kosong dan mendatangkan ejekan dan cemoohan. Mana mungkin kanak-kanak mampu memikul tugas2 para pejuang besar?



Sering kali saya memperhatikan sikap banyak pemuda yang bersemangat untuk melayani agama mereka. Akan tetapi betapa dalam kekecewaan saya ketika melihat kekeliruan besar yang menghinggapi pikiran mereka seperti yang mereka warisi dari generasi2 sebelum mereka. Mereka tidak menganggap keringat yang mengucur akibat penelitian tentang minyak, atau kotornya wajah akibat bekerja di belakang mesin2 sebagai bagian dari jihad. Sebab jihad, dalam bayangan mereka, hanyalah dalam bentuk membaca wirid2 dan sebagainya, seraya mengulang-ulangnya sepanjang ada waktu untuknya.

------------------------------------

Timbul pertanyaan di hati saya (MBA), betapa miripnya keadaan kita, kaum Muslim di Indonesia, dengan keadaan di Timur Tengah, tempat Syaikh Muhammad Al-Ghazali [rahimahuLLah] menulis bukunya itu! Sampai kapan keadaan ini akan berakhir???

(Bersambung, insya Allah)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home