Monday, February 27, 2006

Memaknai Ibadah Ritual Secara Proporsional (6)

Antara Pahala I`tikaf dan Menolong Orang Lain
oleh : Ust.Muhammad Baqir Alhabsyi

Pada suatu hari, Abdullah bin Abbas r.a. sedang ber-i‘tikaf di masjid Rasulullah SAW di Madinah, ketika seorang laki-laki datang lalu mengucapkan salam dan segera duduk termenung di salah satu sudut masjid. Melihat itu, Abdullah bin Abbas mendekatinya dan berkata kepadanya, “Aku melihatmu begitu sedih dan murung. Mengapa?” Jawab laki-laki itu, “Benar, wahai putera paman Rasulullah! Aku berhutang kepada si Fulan, namun—demi kehormatan penghuni makam ini—(orang itu menunjuk kepada makam Rasulullah Saw.) aku benar benar tidak mampu memenuhi kewajibanku itu!”
Mendengar itu, Abdullah berkata, “Inginkah Anda sekiranya aku membicarakan kesulitanmu ini dengan kawan Anda itu?” “Ya, terserah Anda!” kata orang itu. Abdullah segera mengambil sandalnya dan bergegas keluar meninggalkan masjid. Orang itu berkata lagi: “Adakah Anda lupa kalau sedang ber-i`tikaf?” “Tidak!” jawab Abdullah. Tetapi aku pernah mendengar beliau (SAW) yang disemayamkan di makam ini, tidak lama sebelum beliau wafat (kata si perawi, ketika Abdullah bin Abbas menyebutkan ini, ia meneteskan air mata seraya melanjutkan): Aku mendengar beliau bersabda, “Barangsiapa berjalan untuk berupaya mengatasi problema berat yang sedang dialami oleh saudaranya, dan bersungguh-sungguh untuk itu, maka upayanya itu lebih utama daripada i`tikaf sepuluh tahun. Sedangkan siapa yang ber-i`tikaf satu hari saja, semata-mata demi meraih keridhaan Allah, maka Allah akan menjadikan baginya tiga buah parit penghalang antara dia dan neraka, lebar masing-masing parit lebih dari jarak antara langit dan bumi.”
Syaikh Muhammad Al-Ghazali ( rahimahullah ) dalam bukunya, Khuluq al-Muslim, memberikan komentarnya atas hadis Abdullah bin Abbas di atas,sebagai berikut: “Hadis ini melukiskan betapa besarnya perhatian Islam terhadap ikatan-ikatan persaudaraan yang mulia, serta tingginya penghargaan yang diberikannya kepada upaya-upaya perkhidmatan yang amat dibutuhkan guna memperkuat bangunan kesetiakawanan sosial. Abdullah bin Abbas r.a. lebih suka meninggalkan i`tikafnya. Padahal i`tikaf adalah suatu jenis ibadah ritual yang amat tinggi peringkatnya di sisi Allah. Karena ia merupakan konsentrasi penuh dalam shalat, puasa dan zikir. Lebih-lebih lagi yang dilakukan di masjid Rasulullah, tempat dilipatgandakannya pahala lebih dari seribu kali dibanding dengan ibadah di masjid-masjid lainnya. Namun fiqh (pemahaman mendalam) Abdullah bin Abbas terhadap agama Islam telah mendorongnya untuk meninggalkan itu semua, semata-mata demi melayani seorang Muslim yang meminta pertolongannya. Dan begitulah yang dipelajarinya dari Nabi Saw!”
(Fiqh Praktis I, halaman332)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home